Bagi kebanyakan mahasiswa, mendapat sokongan dana dari kedua orang tuanya dalam menjalani masa kuliah menjadi hal yang berarti. Apalagi jika kedua orang tuanya juga mampu memberikan sokongan dana untuk biaya hidupnya selama merantau di tanah orang. Namun bagaimana halnya jika dalam waktu singkat kedua orang tua tidak lagi memungkinkan untuk memberikan sokongan dana? Jangankan memberikan sokongan dana pada anaknya yang berkuliah, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri saja kadang mengharuskan mereka untuk berhutang di sana-sini.

Hal inilah yang dialami oleh Muhammad Imam Bukhori (24), mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) angkatan 2011, yang juga merupakan pemilik kedai kuliner “Rumah Ori”. Perjalanannya menyelesaikan kuliah di UMY tidak semudah mahasiswa lainnya. Jatuh bangun untuk mencapai impiannya meraih gelar sarjana harus dijalaninya dengan gigih. Bukan sebab tak mampu dalam hal akademik. Namun karena musibah yang melanda ia dan keluarganya, yang kemudian mengharuskan dirinya untuk membiayai kuliah dan kehidupannya sendiri. Tak hanya itu, ia pun membutuhkan waktu yang lebih panjang dari teman-teman seangkatannya untuk bisa meraih gelar sarjana.

Akhir tahun 2013 menjadi menjadi awal dari musibah yang melanda pemuda asal Suryakarta, Mesuji Makmur, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan ini bersama keluarganya. Ori, panggilan akrabnya, menceritakan bahwa pada saat itulah keluarganya kehilangan seluruh aset yang ada. Tak lagi ada sokongan dana kuliah dan biaya hidup untuk Ori yang merantau ke Yogyakarta. Keluarga Ori ditipu oleh seorang investor asing yang menawarkan bantuan untuk pendirian tempat belajar mengaji. “Bapak waktu itu ditawari investor asing untuk mendirikan sebuah tempat belajar mengaji. Tapi diminta untuk membayar sejumlah dana. Maka kami talangi dengan menggunakan dana dari bisnis kami sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, kami tersadar, bahwa kami ditipu,” kenang Ori.

Tak hanya itu, musibah yang melanda keluarganya tersebut juga menyebabkan salah satu adiknya putus sekolah. Melihat kondisi keluarganya yang semakin terpuruk itu, lantas menjadikan Ori untuk bertekad membawa serta semua anggota keluarganya ke Yogyakarta. Akan tetapi, karena keterbatasan dana yang dimilikinya, ia pun mengorbankan waktunya untuk memperbesar bisnis kuliner miliknya yang sudah ia dirikan sejak tahun 2012. Bisnis kuliner yang semula hanya sebatas hobi, ia kembangkan menjadi warung makan dan produk olahan makanan lainnya. “Saya bertekad untuk membawa keluarga saya ke Jogja. Karena melihat kondisi tempat tinggal keluarga saya di Sungai Lilin, Tungkal Ilir yang tidak memadai. Saya juga melihat adik-adik saya yang jarang masuk sekolah karena keterbatasan akses. Seperti kalau hujan, akses ke sekolah adik saya tidak bisa dilewati,”ungkap Ori.

Tekad untuk membawa keluarganya ke Yogyakarta dan membiayai keempat adiknya untuk melanjutkan sekolah, dijalaninya dengan sungguh-sungguh. Tekadnya pun membuahkan hasil. Mulai dari tahun 2014, Ori mengumpulkan uang hasil penjualannya untuk membelikan tiket anggota keluarganya. Satu persatu anggota keluarganya mulai datang ke Yogyakarta. Hingga pada tahun 2017, total keluarga yang dibawanya ke Yogyakarta adalah 12 orang, termasuk paman, kedua sepupunya, kakek serta neneknya.

Akan tetapi, bukannya tanpa ada pengorbanan lain dari Ori, hingga akhirnya ia bisa membawa semua anggota keluarganya ke Yogyakarta. Ori terpaksa harus memutuskan untuk cuti kuliah selama 2 tahun. “Karena faktor ekonomi keluarga saya yang tertimpa musibah, dan fokus melebarkan bisnis kuliner untuk membawa keluarga saya ke Yogyakarta, jadi saya memutuskan untuk cuti kuliah,” ungkapnya lagi. Setelah semua anggota keluarganya pindah ke Yogyakarta, pada bulan Juni 2017, Ori pun kembali melanjutkan kuliahnya. Hingga akhirnya ia berhasil menyandang gelar sarjana pada Sabtu (10/2) yang lalu. Ori juga berhasil membiayai keempat adiknya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di Kota Pelajar ini. Adik pertamanya kuliah di Universitas PGRI Yogyakarta, adik keduanya mengambil paket B untuk melanjutkan ke sekolah tingkat menengah atas, adik ketiganya di SMK Muhammadiyah 4 Yogyakarta, dan adik keempatnya di SD Kalipakis.

Meski musibah dan keterbatasan ekonomi sempat melanda Ori dan keluarganya, namun semangat Ori untuk mengembangkan dirinya di dunia kuliner tidak pernah surut. Ia bahkan pernah mendapatkan undangan ke Amerika dan berkesempatan untuk memasak di beberapa acara di San Fransisco, yakni pada tahun 2016 dalam acara Opening Broadway Show dan tahun 2017 dalam acara Cassual Dinner untuk fundrising pembuatan film dokumenter. Selain itu, ia juga pernah membantu di acara pertemuan designer Indonesia selepas acara New York Fashion Show di Kosulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York.

Saat ini, Ori dengan bisnis kulinernya yang bernama “Rumah Ori”, sudah memiliki dua cabang. Warung yang pertama terletak di daerah SMK Pelayaran, Somodaran, DIY dan yang kedua terletak di belakang kampus UMY. Tidak hanya sebatas warung fisik, dengan melihat pasar yang serba modern saat ini, Ori juga memanfaatkan peluang dengan menjualkan produknya melalui pihak jasa ketiga, serta menerima jual beli luar daerah secara online.

Ori juga memberikan tips agar kuliah dan usaha bisa berjalan dengan baik. Menurutnya, mahasiswa harus ingat bahwa kuliah menjadi tanggung jawab diri sendiri pada orang tua. Jadi bagaimanapun selama menjalankan usaha, kuliah juga harus berjalan dengan baik. Sedangkan untuk masalah usaha, harus amanah dan istiqomah dalam menjalankannya. “Kita juga harus jeli melihat peluang. Jangan mudah patah semangat dengan kondisi dan keadaan apapun yang menimpa kita,” tutupnya. (Darel)

 

Sumber : http://www.umy.ac.id/ajak-12-anggota-keluarganya-ke-jogja-pemilik-rumah-ori-ini-lulus-kuliah-dengan-biaya-sendiri.html